IPA 3 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 3 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 2 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 2 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 1 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 1 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 4 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

Kekasihmu

Betapapun ku lukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf
Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap maha agung
Sedang segala misteri hidup akan terbuka
Menjadi kebahagiaan di bawah kasih-Mu yang meliputi segalanya
Betapapun kubasahi lisanku untuk memuji-Mu dengan segala bahasa
Engkau tetap diatas segala pujian itu
Sedang semua makna akan lebur,
Mencair,
Di tengah keagungan-Mu

Wahai Rabb pencipta senja yang mempesoa
Betapapu ku ledakkan himmah sawabiq
Dengan penuh tenaga jiwa
Tabir takdir-Mu tetap kokoh tak bergeming
Sedang segala fenomena semesta
Akan pudar tak berbekas

By : Imam Wahyudin

Kuli

Dan..
Meski maghrib menjelang
Isya kan datang
Malam mulai terbentang
Para kuli tak henti kecuali sejenak tuk sembahyang
Para kuli kembali memalu batu
Menggempur tanah tanah berlumpur
Mengayuh mesin pengaduk
Dalam kening tergantung gantung
Anak istri yang setia menunggu dengan serantaian do’a
Dalam dada mengantung niat jihad pembangunan
Para umat muda
Dalam bangunan yang akan jadi
Al Ishlah …

By : NN

Masjid

Selembar foto bangunan tempat ibadah
Tidak asing. Tiada pernah terasing
Namun memicing
Menguap dalam asmara rindu
Kala rela aku tumpahi air mata
Lantai lantai mengkilapnya

Selembar foto bangunan tempat ibadah
Meregang saraf sensorik jiwa kepada urat rindu
Kala badai membasuh
Lalu dipeluknya aku dengan tiang tiang pencakarnya

Selembar foto bangunan tempat ibadah
Kala gelisah hendak kemana
Dipanggilnya daku,
Meneriakkan kalbu yang sedang pilu
Di bawah naungan kubahnya

Selembar foto bangunan tempat ibadah
Ku pandangi kering

By : NN

Hari Ini

Rerimbunan teteskan air mata
Anak sholeh tersenyum dalam bendungan darah
Muntahkan sekendil nanah, ingi telan kembali
Dibalik tepuk tangan ada seribu arti

By : Maghfirotus Sholihah

Pagi

Pagi..
Sapa bantal kami
Memulai menggiring pena
Dalam kelas dengan teori baru

Pagi..
Sapa tongkat dan ceramah guru
Entah sampai kapan
Kami arungi ombak disini

Pagi..
Sapa langit biru
Untuk perjalanan yang harus terlampaui
Walau terusik, meski berisik
Kursi tetap menunggu kami

By : Nur Hayati

21 April 2013

Krusak krusuk penuh dusta
Tersimpan tumpukan logat didasar samudra
Bertampang busana

Belum mengerti
Mempi esok hari
Tiga orang duduk bersila
Memegang microfon petuahberdiri, jongkok, dudk bersila

Sampaikan salam masa depan
Penuh umpan panjatan
Kebanggaan

Seonggok telinga meresapi
Seonggok pula hujani baju sendiri
Serawut marut menyanyi sendiri

By : Nur Hayati

Malam Terakhir

Esok menjadi buronan
Tanggal merah didepan mata
Termangu pada hijab malam

Senyum berkembang mekar
Sejatinya berbuah sore hari
Masih menunggu seribu pahit
Nuansa alam menggema takbir
Bergetar kolang kamit
Mewk sepanjang tabir

Suara menghantar kakiku
Berdi bersimbah dalam
Cerita duka yang menderu

Mereka ulurkan tangan bukan jabat tangan
Tapi bisikkan doa doa panjatan

Merayap pelan pelan mendayu
Tanpa sadar air mata mendayu
Dengungkan napas
Mengepal kencang
Tiada terdengar ?

Larut semua it
Membeli ikan di nampan
Dedaunan dan kertas minyak
Menjadi saksi
Sebuah malam seribu arti

By : Nur Hayati

Niat

Lingkaran gelang tangan
Tidak semulus lungkaran langkah
Setiap tiang tempat bersandar
Menguasai jiwa..
Realita hidup mulai bicara
-“ Niatmu, senandung akhiratmu.. “

Sepuluh laying ayang
Terbang melayang
Membawa seutas benang tangan ibunda
Bersama angin keringat ayahanda

Searah jarum berpuatar
Bergoyang dan tersangkut
Lalu diam dan tenang
Kepucuk pintu pintu
Mengetuk pintumu dalam dalam

By : Nur Hayati

Terima Kasih Tuhan

Dalam balutan nadiku
Satu benang kegalauan
Satubenang kabimbangan
Satu benang kepastian

Sekian lama langit redup
Menggelayut gelisah di dalam hati
Kini Guntur kian menjadi
Tetesan hujan basahi perih
Nyanyian katak mengusik kaki

Wajah, mulut dan telfonnya
Menyatu padu
Disetiap payung itu tangisku
Tangannya adalah rindu
Satu kata ajaibnya merombak dunia
Kokoh au luluh lantak

Syukur pada-Mu yaa Rabb..
Kau buka awan tangan-Mu
Pada lembaran ceritaku

By : Nur Hayati

Dua Warna

Disini menantimu dan menyanjungmu
Disini tempat berlari

Bintang acuh
Tangis mengering
Membuka kamus do’a tempo lalu
Menjulang di bawah malam
Jauh disana pelupuk do’a
Harapan emas kian berkilau
Harapan mimpi mimpi maya
Satu meter selendang maya pun
Tak mampu tutupi wajah karena butamu

Disini menantimu dan menyanjungmu
Disini tempat berlari
Puluan mata menyorotimu
Ratusan telinga mengaminimu
Ribuan tangan berlari mengejarmu
Menyerbu tiap tetes otakmu
Tets kantongmu
Jutaan hati tersapu manis dibelai rindu
Ditatap syahdu, sibuk denganmu
Duh,
Engkau putra putri emasku

By : Nur Hayati (15 Mei 2013)

Sekotak Koyo Cabe

Kuciumi bau busuk
Kuciumi bau anyir minggu ini
Aku merindu mimpi itu pagi ini
Mimpi pada langkah mereka
Yang rajin menghadap kuasa
Ikhlas hati tanpa plu di dada

Bah,
Pucat pasi wajahku kini
Matahari makin renungi cara pasti
Ludahku, air liurku, dan tongkat di tanganku
Juga sumpah serapahku
Membumbung dengan tangis ternodai
Akan pola tingkah dan laku mereka

Apa seribu do’apun
Tidak menembus nuranimu.. ?
Adikku..

Apa sekotak koyo cabe
Perlu menyuntik derap langkahmu
Berkomunikasi dengan-Nya… ?

By : Nur Hayati (9 Mei 2013)

Baju yang Terselip

Asam manis gula jawa
Pernah hinggap di lidah
Enam tahun silam banjir air mata
Atap rumah berbeda langit
Dan payungnya berganti warna Al Ishlah

Aliran zig-zag menimang kaki
Meskipun enggan..,
Dengan tanpa sadar mengikat janji
Menjalani arus ribuan detik dan menit
Waktu waktu disini

Lembaran foto terlukis senyuman
Berlesung unik penuh ilusi
Berhambur bersama
Setangkai bunga yang layu

Hanya karena tirai putih yang ingin di buka
Menyibak katrol waktu sementara..
Hanya karena menghapus mimpi buruk
Merangkai doa sebelum berbaring
Dan Hanya mecari ridho dan sunnah
Meniti petuah kyai

Nampak sore saja hari ini
Tangis mengelabuhi jilbab putih suci
Dua perkara belum terikat erat
Tapi terselip sebuah baju kesturi
Ceramah subuh baju arsitek masa kini

By : Nur Hayati

Mati

Pada umpan yahudi dan fir’au di bumi
Pada gejolak gejolak selimut dengki
Rabbi
Azalli
Meladeni
Asap asap malam


By : Nur Hayati

Di Tengah Edan

Kompas berputar ke utaraT
empo lagu kian menggebu
Terbaca dari balik jendela
Deretan huruf memikat
Silau akan butiran embun
Semakin jelas tampak di mata
Empat huruf terulang ulang,
“edan-edan-edan”

Tiada hari tanpa korupsi
Dasar politikus yang mabuk duniawi
Andalan dasi, nurani tercoreng mati
Nasibmu jahannam abadi

Dalam edan berkubang dua huruf“D” dan “A”
Dua golongan ngebekki ndonyo
Aku pemerintah dan Aku pejabat

Edan diselimuti dua huruf“E” dan “N”
Esok hari pengemis di negerimu menyemut
Tangis seribu, terbalas senyum tengik keparat

By : Nur Hayati (1 Mei 2013)

Kiamat Esok Hari

Kekasih-Nya ngelindur
Terkuasai mimpi 

Jagad raya mandul
Kekasih-Nya tak menyambung nyawa
Karena tanam seribu cara
Nikmati indah gemerlap bintang kejora
Kejora fana meracuninya 

Kekasih-Nya tutup doa 
Tutup sujud 
Tutup lembaran suci 
Karena kiamat dimatanya 

Tapi..
Di gubuk Sendang berselimut bambu
Kutemui kiamat belum bertalu


By : Nur Hayati (27 April 2013)

Rabu, 05 Februari 2014

Hujan dibalik Almari

Hujan dibalik Almari Dalam diam ku selalu bercerita Bahwa di balik almari pasti ada hujan, Namun, kata sang kyai suatu saat hujan itu akan redah menjadi sinar mentari yang indah. Al-ishlah Penjara suci. kata para santri, yang selalu menyimpan hujan dalam almarinya. Nadiya Istighfaara

Senin, 03 Februari 2014

BUNGA UNTUK GURU TERCINTA

Allah ciptakan matahari,
yang tak pernah bosan bersinar,
seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami,
wahai Guruku...

Allah ciptakan bulan,
yang selalu akan menerangi malam,
seperti halnya engkau Teuku Guru,
yang selalu membimbing dan menerangi kami dengan berbagai ilmu..

Allah ciptakan bintang dimalam hari,
sebagai penghias, pendamping bulan yg kesepian,
seperti halnya engkau Teuku Guru,
yang selalu menghiasi dan mendampingi hari-hari kami dengan semangat penuh motivasi,

Allah ciptakan bunga,
yang elok, cantik, semerbak harumnya,
seperti halnya engkau Teuku Guru,
yang telah memperelok, mempercantik dan memberikan keharuman pada nama, jiwa dan raga kami,

Terimakasih pahlawan pendidikan kami,
darah ilmu yang telah engkau beri,
akan selalu teringat di hati,
untuk Guru kami yang dulu,
dahulu saat kami masih berada di rumah kedua kami,
Al-Ishlah, Ma'had  tercinta... (Muh. Amirudin Umar)

KAU YANG KU INGAT

Lihatlah kami,,
berjalan tanpa malu menuju kedepan
Kearah gerbang tinggi menjulang kedada
Begituh kokohnya terbuat dari batu beton yang berambisi
Kami terjang tanpa gumpalan air keringat yang dihasilkan,,
Slalu kami ingat wajahmu yang teduh akan kekecewaan
Berjalan menunduk mengusap wajah
Dengan langkah yang hanya akan didengar oleh kekuatan jiwa
Slalu ditatapmu langit-langit yang akan menjadi singgahsana
Berfikir apakah yang akan terjadi esok atas kehendakmu TUHAN
Meraung dalam kesunyian cinta yang didamba
Meminta untuk terkabulnya semua doa
Disetiap padamnya cahaya terang yang berganti dengan sinar cahaya rembulan
Mulailah kau meraba hati dengan kekuatan pedang kesabaran
Menjerit dalam setiap doa yang dihafal dengan fasih,,
Disemua tempat kau menjerit dalam tekanan ozon panas
Melihat apa yang sudah terjadi menjadi tekanan jiwa yang merusak
Sujud yang indah itu
yang setiap praktekkannya akan membuahkan Sebuah hasil
yang di tanam dengan semangat juang yang membara
Melihat anak didikmu yang kian hari kian menjadi
Buakn kema’rufan yang di gendong oleh mereka ketika merambat dalam aspal yang keemasan
Tetapi kemungkaran yang digandeng dengan kemesraan menuju ruang percintaan
Inikah kekecewaan yang ada dalam dekappanmu selama ini,,,,,,,,
Tapi lihatlah hasil dari siraman cintamu yang abadi
Yang setiap hari kau nyanyikan dalam anggukan keiklasan
Lihatlah kami yang mampu menatap dunia yang lebih berpelangi
Yang lebih berduri yang terbuat dari emas
Yang lebih banyak belokan dan tikungan yang harus kami pilih
Ini tidak akan ada tanpa sujudmu KYAI ku
Kaulah permata jiwa raga kami
KH.MUHAMMAD DAWAM SALEH
Maafkan kami yang baru menyadarinya Dengan apa yang telah menjadi kebiasaanmu
Kami menjadi orang-orang yang terpilih
Trimakasih adalah bekal dari kami untukmu (Vettyara kharisma)

Sabtu, 30 November 2013

KASIHMU

Betapapun ku lukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf
Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap maha agung
Sedang segala misteri hidup akan terbuka
Menjadi kebahagiaan di bawah kasih-Mu yang meliputi segalanya
Betapapun kubasahi lisanku untuk memuji-Mu dengan segala bahasa
Engkau tetap diatas segala pujian itu
Sedang semua makna akan lebur,
Mencair,
Di tengah keagungan-Mu
Wahai Rabb pencipta senja yang mempesoa
Betapapun ku ledakkan himmah sawabiq
Dengan penuh tenaga jiwa
Tabir takdir-Mu tetap kokoh tak bergeming
Sedang segala fenomena semesta
Akan pudar tak berbekas. (Imam Whahyudin)

MENGENANG KYAI

Menghujam do’a dalam suud malam
Kening hitam tanda sayang
Memahat tembok yang belum usai
Using berdebu tanpa tanganmu

Keriput menggoyang waktu
Lembaran badai menggoncang ombak
Dua dasawarsa bak mutiara

Al Ishlah terguyur santri
Menjilat keringat pahit
Berjabat tangan senyum melilit
Menjerit tangis kilat
Dalam sendu mengenang rahmat

Aksara senyummu tereja ikhlas
Namun seribu cengkraman hati
Berdiri kala kelu, atos

Gemericik tangis melesap ke telinga
Serapah laknat bahasa jawa
Tangan sedingin cambuk
Bermain dalam do’a

Lalu pada setitiap subuh
Yang jatuh di atap rumahmu
Kembali kau rajut
Sisa kemarau disekujr keningmu

Dari pelarian bamboo bamboo itu
Tersimpan percakapan air mata tak bersuara
Memburu berjuta muara air mata
Haluan senjatergambar di balutan nadi yang kuyup dahaga
Meski terkekang waktu
Dan tersengal seember palu
Tak pernah putus kakimu
Berlari mencari sungai warna-Nya. (Nur Hayati)
22 May ‘13