IPA 3 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 3 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 2 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 2 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 1 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPS 1 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

IPA 4 | 22nd AL-ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL GRADUATION

Sendangagung Paciran Lamongan | alishlahfor3.blogspot.com

Sabtu, 30 November 2013

KASIHMU

Betapapun ku lukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf
Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap maha agung
Sedang segala misteri hidup akan terbuka
Menjadi kebahagiaan di bawah kasih-Mu yang meliputi segalanya
Betapapun kubasahi lisanku untuk memuji-Mu dengan segala bahasa
Engkau tetap diatas segala pujian itu
Sedang semua makna akan lebur,
Mencair,
Di tengah keagungan-Mu
Wahai Rabb pencipta senja yang mempesoa
Betapapun ku ledakkan himmah sawabiq
Dengan penuh tenaga jiwa
Tabir takdir-Mu tetap kokoh tak bergeming
Sedang segala fenomena semesta
Akan pudar tak berbekas. (Imam Whahyudin)

MENGENANG KYAI

Menghujam do’a dalam suud malam
Kening hitam tanda sayang
Memahat tembok yang belum usai
Using berdebu tanpa tanganmu

Keriput menggoyang waktu
Lembaran badai menggoncang ombak
Dua dasawarsa bak mutiara

Al Ishlah terguyur santri
Menjilat keringat pahit
Berjabat tangan senyum melilit
Menjerit tangis kilat
Dalam sendu mengenang rahmat

Aksara senyummu tereja ikhlas
Namun seribu cengkraman hati
Berdiri kala kelu, atos

Gemericik tangis melesap ke telinga
Serapah laknat bahasa jawa
Tangan sedingin cambuk
Bermain dalam do’a

Lalu pada setitiap subuh
Yang jatuh di atap rumahmu
Kembali kau rajut
Sisa kemarau disekujr keningmu

Dari pelarian bamboo bamboo itu
Tersimpan percakapan air mata tak bersuara
Memburu berjuta muara air mata
Haluan senjatergambar di balutan nadi yang kuyup dahaga
Meski terkekang waktu
Dan tersengal seember palu
Tak pernah putus kakimu
Berlari mencari sungai warna-Nya. (Nur Hayati)
22 May ‘13

TAHAJJUD

Setiap kubuka langit hitam
Kuawali komat komit semedi
Dalam hati mengetuk rindu ilahi
Dalam dada pujian tak terkendali
Dalam jemariku lenggokkan tasbih putih

Meladeni dunia kala datang
Senyuman mentari
Meladeni panggilan hati kala datang
Sajadah petang sodorkan diri

Allah Allah dan Allah Allah
Alah-alah dunia lepas genggaman
Toh Allah mencokku kemudian

Laki laki perempuan
Tak ada nama baginya
Kecuali iman dan taqwa
Kau dapat kuncinya. (Nur Hayati)

26 Feb ‘13

Minggu, 24 November 2013

WASPADAI ROMANSA DUNIA !


Oleh KH. Muhammad Dawam Saleh
Pengasuh PP. Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

Sumber: Republika, Senin, 11 Maret 2013

Judul tulisan di atas merupakan kesimpulan dari penegasan Alquran dalam berbagai ayatnya, bahwa romansa dunia kerap menipu dan mempedaya manusia. Maka tidak ada kata lain bagi kaum beriman, kecuali harus senantiasa waspada dan tidak terlena oleh megah dunia. Kaum beriman harus senantiasa sigap dengan segala pernik dunia yang kerap menjerumuskan dan menghancurkan.

Ingatlah firman Allah, “Dihiaskan pada manusia kecintaan yang diinginkan berupa wanita-wanita, anak-anak, harta melimpah dari jeis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik” (Ali Imron: 14).

Tidak kurang 117 kali Alquran menyebut kata ad-dunya. Semuanya mengacu pada peringatan keras bagi para pembaca Alquran agar memahami rupa dan pernik dunia, kedudukannya bagi hidup dan mati manusia, seberapa kebaikan, kelezatan, dan kemudaratannya, serta bagaimana cara kita mendapatkan dan menghindari dunia agar selamat.

Betapa gamblang penjelasan Alquran untuk keselamatan manusia itu. Jika mengacu pada surah Ali Imran di atas, maka ada berbagai rupa kenikmatan atau kesenangan dunia.

Pertama, berupa wanita. Persis sabda Rasulullah, “Dunia adalah kesenangan sementara, sedangkan sebaik-baik kesenangan sementara adalah wanita yang shalihah”.

Kedua, berupa anak-anak. Jelas anak-anak merupakan kebahagiaan, pewaris, pendoa, dan pembantu utama jika orangtua lanjut usia.

Ketiga, berupa harta yang banyak, seperti uang, emas, perak, dan harga tidak bergerak maupun bergerak.

Keempat, berupa kuda-kuda pilihan, dalam bahasa sekarang kendaraan, seperti mobil atau motor.

Kelima, binatang-binatang ternak, semacam kerbau, kambing, sapi, dan lainnya. Keenam, sawah atau ladang, termasuk perkebunan dan perhutanan.

Seluruhnya, itu adalah mata’ al-ghurur (kesenangan yang menipu). Dan ternyata tidak sedikit manusia yang tertipu olehnya. Mereka mengira dunia itu menyenangkan.

Jungkir balik mereka meraihnya, ternyata dunia malah menyusahkan dan membuat hidup mereka berantakan. Lihatlah para pelaku koruptor dan penyeleweng jabatan serupa yang wajahnya kerap menghiasi layar media negeri kita tercinta. Kesuksesan mereka atas gemerlap dunia justru menghasilkan petaka.

Itu karena mereka lupa bahwa kesenangan dunia amat sedikit (mata’ al-qalil). Terlebih jika dibanding kesenangan akhirat. Perbandingan itu sudah disebutkan dalam hadis, bahwa kesenangan dunia hanya setetes dari kesenangan akhirat. Atau seperti pisang, dimana kesenangan dunia hanya kulitnya sementara kesenangan akhirat adalah isi pisangnya itu sendiri.

Memang sebutan lain bagi dunia adalah sebagai zinah atau perhiasan (Al-Kahfi: 28 dan 46, Al-Qashas: 60). Tetapi, bukankah perhiasan hanya ornamen dan bukan esensi? Seperti hiasan ornamen pada rumah, esensinya adalah tempat tinggal agar kita tidak kehujanan dan aman dari penjahat. Yang lebih kita butuhkan tentu rumahnya, bukan ornamennya. Dunia hanya kembang atau gemerlap yang bukan pokok (Thaha: 131). Bahkan hanya permainan (Al-Ankabut: 64, Muhammad: 36, Al-Hadid: 20).

Akhirat, itulah kehidupan yang hakiki dan abadi. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta benda dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning kemudian menjadi hancur, dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta ridla-Nya, dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menimpa” (Al-Hadid 20).

Teringatlah saya sabda Rasulullah, “Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau, dan sesungguhnya Allah memberikan kuasa padamu dalam dunia itu, maka Allah akan melihat bagaimana kamu sekalian berbuat. Sesungguhnya Bani Israil saat dunia dilimpahkan kepada mereka, mereka pun berbangga-bangga dengan perhiasan, wanita-wanita, wangi-wangian, dan pakaian” (Muttafaq Alaih).

Sudahkah kita mewaspadai romansa dunia, sehingga modal hidup yang singkat ini bisa menjadi tiket menuju surge kelak di alam baka?

Kamis, 21 November 2013

Bangga Milik Al-Ishlah



Melupakan Al-Ishlah adalah sebuah kesalahan besar. Hingga detik ini saya yakin tidak akan ada salah satu alumni yang merasakannya. Tidak tahu sihir apa yang membuat hal seperti itu dapat dirasakan oleh banyak dari kami, tak terkecuali oleh teman kami yang sudah tidak memiliki kesempatan belajar bersama kami  hingga akhiri oleh karna kesalahan tertentu. mungkin memang bukan sebuah sihir namanya. Terkadang kita merasa dikekang, dipenjara, diatur,  oleh peraturan yang mungkin anak muda lain tidak akan sanggup melakukkannya. Namun nyatannya kami sanggup. Awalnya mungkin banyak yang berfikir itu sebuah beban, namun sebenarnya itu adalah bekal yang akan kami nikmati keistimewaannya pada saat kami dilepaskan.
Tidak menggunakan barang elektronik bagi kebanyakan anak seumur kami adalah menyiksa. Single bagi remaja seperti kami adalah bercanda. Banyak hal yang kami tidak lakukan sebagai remaja pada umumnya. Namun kami bangga tidak menjadi remaja seperti mereka, yang berfikir pendek dan mengambil keputusan cepat terhadap suatu kesenangan sesaat. Kami tidak diajarkan untuk itu disini. itu yang membuat kami berbeda sebagai lulusan Al-Ishlah.
Tak sedikit pengembangan diri yang kita dapat di Al-Ishlah, tidak sedikit generasi hebat yang dicetak oleh Al-ishlah, tak sedikit pengalaman dan pelajaran yang kita dapat dari Al-Ishlah karna memang sangat banyak pula pengorbanan yang dilakukkan Al-Ishlah. Pengajar Al-Ishlah adalah pengajar super. Tidak akan kita temukan pengajar seperti mereka ditempat jika tidak dipondok, yang siap 24 jam menjadi wali pengganti orang tua. Yah, pengajar Al-Ishlah adalah pengganti seorang ayah dan ibu yang luar biasa kerjanya. Jarang seorang guru yang rela dibangunkan tengah malam, saat pengajar lain seperti mereka mungkin sedang bermimipi indah di malamnya, seorang ustadz dan ustadzah siap berjaga di setiap malamnya, berjaga-jaga apakah santrinya beristirahat tanpa gangguan di sekitarnya. Bahkan ketika seharusnya seorang suami istri berkumpul dengan anak-anaknya dirumah, ustadz dan ustadzah kami rela untuk tidak melakukkannya. Itu bedannya ustadz dan ustadzah kami dengan guru-guru lain. namun tidak akan ada Al-Ishlah dan pengajar super bila tak ada kyai kami, pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah.
Kami  rindu petuahnnya, kami rindu ceramahnya, kami rindu celoteh dan canda khasnya, kami rindu senyum damainya, karena itu kami sangat rindu pengasuh kami. Benak yang akan muncul kala mendengar namanya adalah “kewibawa’annya”. kami masih ingat sekali bagaimana kami dididik dalam kelas.”kuli ma sami’ti wa kul ma sami’ta”. Lantunan yang sering kami dengar di setiap pelajaran insya' dan kami Berdiri saat tidak bisa menghafalkan materi yang deberikannya, kami sangat ingat itu. Rasanya sangat jantung berdetak semakin kencang seakan kami akan mendapatkan sebuah hukuman sangat berat. namun sebenarnnya kyai kami tidak melakukan suatu tindakan yang membuat anak asuhnya takut, tapi itu karena wibawa yang ada pada beliau. mutlak memang seorang kyai memiliki wibawa bahkan seharusnya setiap pemimpin memilikinya, agar dihormati para anak asuh dan anak buahnya . Begitulah pengaruh yang dimiliki pengasuh kepada kami. Sebagai seorang pengasuh, beliau adalah pengasuh yang luar biasa. Sampai saat ini kami belum pernah menemukan guru yang mau turun lansung membangunkan, mengingatkan anak-anaknya untuk berangkat ke masjid. Membunyikan jaros(bel) ketika pemukulnya belum terjamah sama sekali oleh pengurus malas seperti kami. Kami sangat malu jika sudah seperti itu, tak tahu sebutan apa yang pantas disandang oleh pengurus seperti kami, membiarkan tugas sekecil itu dikerjakan oleh kyai kami, yang kami tau tugasnya sudah sangat berat, bahkan harus bermain mental.
 Kyai kami hanya tidur kurang lebih 3 jam untuk anak asuhnya, yang kami terkadang tak menghargai setiap do’a yang beliau panjatkan disepertiga malamnya  demi kesuksesan anak-anaknya  kelak. Sekali lagi, kami tidak tahu sebutan apa yang cocok kami sandang. Kadang kami merasa menjadi seorang anak yang nakal, yang membiarkan orang tuanya menangis atas perbuatannya. Setelah banyak pengorbanan berat yang orang tua kami lakukan, beberapa kali peringatan, beribu pelajaran yang kadang kami anggap sebagai sesuatu yang tidak akan menyenangkan bila dilakukan oleh anak-anak yang hanya tau kesenengan semata karna melihat anak orang kaya yang taunya hanya bersenang-senang saja, sedangkan nyatanya kami adalah anak-anak yang dibesarkan oleh kesederhana’an yang sedikit memiliki kebebasan seperti yang dimiliki anak pada umumnya. Hingga pada saat pelepasan kami, disitulah kesadaran akan kesederhanaan itu yang membawa kami pada suatu kesimpulan, yakni kemandirian matang nan siap serta banyak membawa anaknya pada sebuah kesuksesan yang akan susah didapatkan oleh anak-anak yang tidak bernaung dalam pondok seperti kami. Sehingga pada saat kami benar-benar mendapatkan kesuksesan tersebut, kami merasakan kepuasan luar biasa dalam diri kita.
Al-Ishlah memiliki banyak komponen yang akan susah dimiliki oleh yang lainnya. Dari mulai pengasuh seperti ustadz Dawam yang sangat luar biasa, memiliki ustadz-ustadzah yang membantu pengasuh kami bekerja 24 jam, memiliki ilmu pengetahuan yang sangat beragam yang menggabungkan setengah ilmu dunia dan setengah lagi ilmu agama, memiliki prestasi-prestasi yang mungkin akan susah diraih oleh tempat didik lainnya, dan banyak lagi. Sehingga Tidak ada alasan untuk tidak bangga terhadap pondok tercinta kami. Tidak ada alasan untuk lupa terhadap kampung damai yang telah mengantarkan kami hingga sampai dititik ini. Dan membuat kam akan lantang mengucapkan “KAMI BANGGA MILIK AL-ISHLAH”.(Affa Salsabila)